Lematang Ilir: Mengenal Wilayah dan Sejarahnya di Sumsel

lematang ilir

TL;DR

Lematang Ilir adalah sebutan kawasan di sepanjang hilir Sungai Lematang, Sumatera Selatan. Nama ini sudah digunakan sejak masa Hindia Belanda sebagai wilayah administratif, kemudian melebur dalam Kabupaten Muara Enim pascakemerdekaan, dan kini hadir kembali sebagai bagian dari nama Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang berdiri sejak 2013 dengan ibu kota di Talang Ubi.

Sungai Lematang mengalir dari dataran tinggi di kawasan Lahat, membelah sebagian Sumatera Selatan, lalu bergabung ke Sungai Musi sebagai anak sungai. Di bagian hilir sungai inilah kawasan yang disebut Lematang Ilir berada, sebuah nama yang sudah ada jauh sebelum peta administratif modern terbentuk.

Arti di Balik Nama “Lematang Ilir”

Dalam bahasa Melayu Palembang, ilir berarti hilir atau bagian bawah dari aliran sungai. Lematang Ilir secara harfiah berarti bagian hilir Sungai Lematang, berbeda dari Lematang Ulu yang merujuk pada kawasan hulu di Lahat dan sekitarnya. Cara penamaan seperti ini umum di Sumatera Selatan: Ogan Ilir, Komering Ilir, dan Musi Ilir semuanya mengikuti pola yang sama.

Sungai Lematang sendiri termasuk dalam kelompok yang masyarakat Sumsel sebut “Batanghari Sembilan,” yaitu sembilan sungai besar yang semuanya bermuara ke Sungai Musi. Posisi Sungai Lematang ada di antara kawasan Lahat di hulu dan dataran rendah menuju Musi di hilirnya.

Onder Afdeling Lematang Ilir: Kawasan Ini di Masa Kolonial

Pemerintah Hindia Belanda menjadikan kawasan ini wilayah administratif resmi dengan nama Onder Afdeling Lematang Ilir. Cakupannya meliputi marga-marga di sepanjang Sungai Lematang, mulai dari Marga Tamblang Ujan Mas hingga Marga Sungai Rotan, di bawah Afdeling Palembangsche Boven Landen. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Muara Enim, dengan Kontrolir sebagai kepala wilayahnya.

Pada masa pendudukan Jepang, wilayah ini sempat berganti nama menjadi Lematang Sijo atau Seco, tapi nama Lematang Ilir tetap dikenal masyarakat setempat dan kembali dipakai setelah kemerdekaan.

Perjalanan Administratif Setelah Kemerdekaan

Setelah proklamasi 1945, sidang Dewan Karesidenan Palembang pada 20 November 1946 memutuskan penggabungan Kawedanan Lematang Ilir dan Lematang Ogan Tengah menjadi satu kabupaten baru bernama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah, disingkat LIOT. Wilayah inilah yang menjadi cikal bakal Kabupaten Muara Enim.

Nama LIOT bertahan sampai 1 April 1980. Berdasarkan Surat Edaran Bupati Nomor 2642/2/B/1980, nama resminya dikembalikan ke nama asal: Kabupaten Muara Enim. Jadi siapa pun yang menemukan singkatan LIOT dalam dokumen-dokumen lama, itulah asal-usulnya.

Baca juga: Unit Usaha KUD Lematang Ilir

Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir: Nama Ini Hidup Kembali

Nama Lematang Ilir tidak lama menghilang dari peta administratif. Ketika sejumlah kecamatan di wilayah bekas Muara Enim menginginkan otonomi sendiri, para pemrakarsa kabupaten baru memilih nama yang mencerminkan tiga sungai utama di kawasan itu: Sungai Penukal, Sungai Abab, dan Sungai Lematang. Kata “Ilir” di ujung nama menandai posisi kawasan di bagian hilir Sungai Lematang.

Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir atau PALI resmi berdiri pada 11 Januari 2013 berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 2013, hasil pemekaran dari Kabupaten Muara Enim. Ibu kotanya ada di Kecamatan Talang Ubi. Dengan 26 karakter di namanya, PALI menjadi kabupaten dengan nama terpanjang kedua di Indonesia, setelah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di Sulawesi Utara.

Wilayah dan Penduduk

PALI memiliki luas 1.840 km² dan terdiri dari 5 kecamatan, 65 desa, serta 6 kelurahan. Menurut estimasi BPS pertengahan 2024, jumlah penduduknya mencapai sekitar 212.220 jiwa, naik dari 194.900 jiwa pada Sensus 2020. Dari sisi daerah aliran sungai, hanya ada dua yang melintasi kabupaten ini: Sungai Musi dan Sungai Lematang.

Secara geografis, PALI berada sekitar 160 km arah barat daya dari Palembang, atau sekitar 67 km dari Prabumulih. Kabupaten ini berbatasan dengan Musi Banyuasin di utara, Muara Enim di timur dan selatan, serta Musi Rawas di barat.

Minyak Bumi, Warisan Sejak Era Belanda

PALI bukan hanya dikenal karena sejarahnya. Kawasan Pendopo dan Talang Akar di wilayah ini sudah jadi ladang pengeboran minyak sejak masa Hindia Belanda. Sampai sekarang, sumur-sumur di sana masih aktif dan dikelola oleh PT Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field. Sektor migas ini tetap menjadi salah satu sumber pendapatan utama daerah.

KUD Lematang Ilir dan Perannya di Kawasan Ini

Di tengah wilayah PALI inilah KUD Lematang Ilir beroperasi, berkantor di Talang Ubi Utara, Kecamatan Talang Ubi. Koperasi ini berdiri sejak era Orde Baru dan melayani masyarakat di sektor pertanian, peternakan, serta perdagangan hasil bumi.

KUD atau Koperasi Unit Desa adalah lembaga ekonomi koperasi yang dibentuk untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat desa. Sejak awal perkembangannya, KUD menjadi saluran utama layanan pertanian, akses modal, serta distribusi kebutuhan pokok bagi masyarakat pedesaan di seluruh Indonesia. Di kawasan Lematang Ilir, KUD ini mengambil peran yang sama: menjadi mitra ekonomi masyarakat lokal, memperkuat permodalan, dan mendukung kesejahteraan anggota.

Baca juga: Permodalan KUD Lematang Ilir

Nama “Lematang Ilir” mungkin sudah berganti-ganti wadah administratifnya, dari Onder Afdeling kolonial, lalu Kabupaten LIOT, kemudian Muara Enim, dan kini muncul kembali dalam nama PALI. Tapi di balik semua perubahan itu, kawasan ini tetap punya identitas yang sama: wilayah di aliran hilir Sungai Lematang yang masyarakatnya sudah lama mengandalkan sungai, tanah, dan usaha bersama untuk bertahan dan berkembang.

Scroll to Top